Pages

Selasa, 05 Maret 2013

Menyontek Menjadi Kebudayaan Bangsa Indonesia


            Kata “menyontek” mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan pelajar. Hampir semua pelajar pasti pernah melakukannya ketika menjawab soal ujian yang sulit. Mereka melakukan banyak cara untuk menjawab soal ujian tersebut, termasuk dengan cara yang tidak jujur yaitu menyontek. Semua pelajar pasti ingin mendapat nilai yang baik dalam ujian, tetapi kalau dilakukan dengan menyontek, tentu saja perbuatan tersebut tidak baik. Mereka lebih bangga dengan nilai 100 yang di dapat dari hasil menyontek, daripada mendapat nilai 50 dari hasil sendiri. Mulai dari siswa SD, SMP, SMA bahkan hingga Perguruan Tinggi, perbuatan menyontek tersebut selalu banyak dilakukan pelajar. Sejak di Sekolah Dasar, budaya menyontek sudak mulai terlihat, ketika menjawab latihan soal-soal beberapa siswa sudah berani melihat jawaban temannya dan menyalinnya. Dan begitu seterusnya hingaa besar, seolah sudah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Padahal budaya menyontek merupakan awal kehancuran bangsa. Semua kejahatan besar oknum pejabat negeri ini terlihat pada masa mudanya di sekolah. Ketika sekolah suka mencuri pulpen, kelak ketika menjadi pejabat kemungkinan besar suka mencuri uang rakyat. Begitu pula dengan menyontek, kelak akan menjadi tokoh penyuka plagiat.

            Menyontek (cheating) menurut Wikipedia Encyclopedia yaitu sebagai suatu tindakan tidak jujur yang dilakukan secara sadar untuk menciptakan keuntungan yang mengabaikan prinsip keadilan. Menyontek adalah sebuah bahaya laten bagi perkembangan mentalitas generasi muda yang merupakan generasi penerus. Menyontek merupakan salah satu perilaku menyimpang yang menjadi salah satu jalan untuk para pelajar yang menginginkan prestasi baik, yang kemudian akan diperlihatkan kepada teman-teman dan orang tua. Bukan tidak mungkin, budaya korupsi yang sedang marak beritanya di negeri ini di awali dari hal yang satu ini. Generasi muda tumbuh menjadi generasi yang tidak jujur, lambat laun ketidakjujuran tersebut terus melekat menjadi sifat dalam diri. Menyontek sendiri adalah sebuah kecurangan yang dianggap wajar oleh para pelajar, hal ini seperti lumrah dilakukan padahal berdampak sangat besar bagi perkembangan mentalitas siswa di masa yang akan datang. Kebanyakan pelajar di Indonesia alasan menyontek adalah karena mereka tidak bisa menghafalkan materi yang banyak dan sulit di pahami. Sehingga ketika ujian tiba, timbul rasa tidak percaya diri untuk menjawab soal, mereka seperti ragu-ragu karena tidak yakin dengan jawabannya, akhinya pilihan terakhir yang dilakukan adalah menyontek. Apalagi ketika siswa tersebut tidak belajar sebelum ujian, maka bertambah bingung bagaimana cara untuk menjawab soal, pada akhirnya bukan berpikir untuk menjawab soal, tetapi mereka malah berpikir bagaimana cara menyontek agar tidak ketahuan. Cara siswa menyontek bermacam-macam, mulai dari bertanya secara terang-terangan kepada teman hingga melakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Bisa dengan menggunakan simbol tangan, tengok kanan-kiri, membuat catatan dalam sebuah kertas kecil, dan lain sebagainya. Apalagi dengan adanya kecanggihan teknologi saat ini, hampir semua siswa memiliki gadget canggih yang memudahkan siswa untuk mencari informasi. Orientasi siswa juga masih pada nilai bukan pada ilmu yang ingin di raih. Selain itu, faktor kebiasaan menjadi penyebab utama megapa menyontek masih terus dilakukan oleh para pelajar. Dampak yang timbul dari perbuatan menyontek yang secara terus menerus dilakukan akan mengakibatkan ketidakjujuran. Jika tidak dihilangkan, akan berakibat buruk, yang nantinya akan menjadi kandidat koruptor. Selain itu, akibat menyontek kraetivitas siwa menjadi terhambat. Padahal kreativitas sangat diperlukan dalam dunia pendidikan. Kemandirian siswa juga tidak akan muncul, mereka akan terus bergantung pada orang lain atau pada contekan yang mereka buat.

            Budaya menyontek memang sulit untuk  dihilangkan, tetapi alangkah baiknya jika dari sekarang mulai dikurangi. Seseorang melakukan korupsi karena sudah terbiasa bertindak tidak jujur. Oleh karena itu, pemberantasannya pun harus melalui kebiasaan mempraktikkan kejujuran. Tempat yang tepat dan strategis untuk mempraktikkan kejujuran adalah sekolah. Memerangi kebiasaan menyontek memang bukan pekerjaan mudah karena harus melibatkan seluruh komponen sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua. Semua harus setuju dan mengusahakan langkah konkret agar kebiasaan menyontek di sekolah bisa dihilangkan. Hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir perbuatan menyontek adalah dengan memberikan hukuman, bisa dengan menggugurkan ulangannya dan mengganti dengan remedial dengan syarat nilai yang tinggi dan bisa juga dengan memberikan tambahan ujian lisan. Penilaian yang dilakukan guru juga sebaiknya tidak hanya dilihat dari aspek kognitif saja, yakni secara menyeluruh yaitu dengan mempertimbangkan aspek psikomor dan afektif. Ujian tulis sebaiknya dikurangi dan menggantinya dengan ujian lisan, sehingga dapat terlihat dengan jelas sejauh mana kemampuan siswa. Jika ujian lisan lebih banyak dilakukan tentu akan mengurangi perbuatan menyontek. Selain itu, hal tersebut juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi siswa. Guru harus selalu mengingatkan siswa ketika perbuatan menyontek tersebut dilakukan kembali, guru juga harus meyakinkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengerjakan soal ujian sendiri. Guru akan lebih menghargai siswa yang jujur dengan nilai yang kurang daripada siswa yang mendapat nilai baik dengan hasil menyontek. Beberapa sekolah sudah menerapkan dengan ketat larangan menyontek, mulai dari ruangan ujian menggunakan kamera CCTV, dipermalukan depan teman-teman, hingga kemungkinan mendapat skors. Dengan semakin dipertegas larangan menyontek, diharapkan generasi muda dapat menghilangkan kebudayaan menyontek tersebut sehingga kedepannya kejujuran dan rasa percaya diri akan lebih dipertahankan. Generasi muda merupakan generasi penerus bangsa, negara ini pasti akan runtuh jika tidak dibangun dengan kejujuran. Dengan kejujuran yang lebih dijunjung tinggi, negara Indonesia akan lebih maju dan sejahtera.

0 komentar:

Posting Komentar