Pembelajaran
Abad 21 (21st Century Learning) dan Peran Guru di Abad 21
Abad
21 merupakan abad informasi dan komunikasi, yang ditandai dengan perkembangan
pesat pada teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi dan
komunikasi berupa televisi, telepon, komputer, dan internet mengalami
perkembangan yang luar biasa.
Sebelum abad 21 fasilitas komunikasi
antar negara dan antar wilayah masih sangat terbatas. Banyak keterbatasan yang
dihadapi, hal ini membuat berita dan kejadian dari suatu wilayah sulit
diketahui oleh wilayah lain. Kejadian di Amerika tidak akan mudah diketahui
oleh mereka yang tinggal di belahan bumi lainnya seperti Eropa, Asia, Afrika,
dan Australia. Namun, lewat perkembangan teknologi komputer, internet, dan
telepon, dunia pun seakan-akan berada dalam genggaman kita.
Informasi yang ada dibelahan bumi lain, secepat kilat akan sampai dibelahan bumi lainnya lewat short message system (SMS) atau berita di internet. Tidak ada lagi informasi yang dapat disembunyikan dengan perkembangan pemantauan satelit yang bisa diakses lewat google earth dan google map.
Informasi yang ada dibelahan bumi lain, secepat kilat akan sampai dibelahan bumi lainnya lewat short message system (SMS) atau berita di internet. Tidak ada lagi informasi yang dapat disembunyikan dengan perkembangan pemantauan satelit yang bisa diakses lewat google earth dan google map.
Berkat
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjelang abad 21, jarak tampaknya
tidak lagi menjadi masalah. Menit ini peristiwanya terjadi, menit berikutnya
seluruh dunia bisa mengetahuinya. Adanya satelit membuat komunikasi menjadi
lebih mudah. Kemudahan komunikasi inilah yang membawa penghuni dunia ke dalam
kehidupan bersama, yang memungkinkan mereka saling berinteraksi, mempengaruhi
dan dipengaruhi, juga dalam memilih dan menentukan pandangan serta gaya hidup.
Sekolah
sebagai institusi pencetak generasi yang hidup dimasa mendatang harus mempunyai
keperdulian terhadap perkembangan yang terjadi. Jika tidak, maka anak-anak yang
kita didik akan tertinggal dengan perkembangan zaman. Karena perkembangan
informasi dan komunikasi ini tidak mempunyai toleransi, pilihannya hanya dua,
yaitu mampu beradaptasi dan mengadopsi atau tertinggal ke belakang.
Pendidikan di abad pengetahuan menuntut
adanya manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa
pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya
secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar,
pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian
diri, komunikasi, dan keterlibatan orang tua/masyarakat. Tidak kalah pentingnya
adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme
dan jiwa juang, keimanan dan ketakwaan, penguasaan iptek, etos kerja dan
disiplin, profesionalisme, kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin,
wawasan masa depan, kepastian karir, dan kesejahteraan lahir batin.
Pendidikan mempunyai peranan yang amat
strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan
kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai keterampilan yang mantap. Untuk
itu, lembaga pendidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan
dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya.
Guru
abad 21 harus menguasai banyak pengetahuan (akademik, pedagogik, sosial dan
budaya), mampu berpikir kritis, tanggap terhadap setiap perubahan, dan mampu
menyelesaikan masalah. Guru tidak boleh hanya datang ke sekolah melulu untuk
mengajar saja. Kemampuan untuk mengelola kelas saja tidak cukup lagi. Guru
diharapkan bisa menjadi pemimpin dan agen perubahan, yang mampu mempersiapkan
anak didik untuk siap menghadapi tantangan global di luar sekolah. Selain orang
tua peran guru dalam mengarahkan masa depan anak didiknya sangat signifikan.
Bisa dibayangkan apa jadinya kalau guru tidak siap menghadapi semua tantangan
dinamika pendidikan abad 21 ini, yang notabene masih terus akan berubah.
Guru
pada abad ini dan abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi
terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Pembelajaran di kelas dan
pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi, atau yang lebih dikenal dengan ICT (information
comunication technology). Bagaimana mengelola kelas berbasis ICT yang akan
menunjang daya adaptasi dan adopsi siswa terhadap kemajuan teknologi informasi
dan komunikasi?
Diakui atau
tidak diakui dalam dunia pendidikan paradigma yang dianut sekarang adalah
konstruktivisme. Jika dahulu pengetahuan siswa bersumber dari guru, dan siswa
dianggap sebagai gelas kosong yang siap diisi. Maka dengan paradigma
konstruktivisme, siswa harus dianggap memiliki pengetahuan awal, dan tugas guru
hanya mengkonstruksinya. Siswa pun diibaratkan tanaman yang sudah punya potensi
untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan guru hanya berfungsi sebagai penyiram
yang membantu tanaman (siswa) tumbuh dan berkembang dengan baik. Akibatnya,
peran guru berubah dari pengajar menjadi fasilitator dengan model pembelajaran
yang berpusat pada siswa (student center), tidak lagi berpusat pada
guru (teacher center). Proses belajar mengajar bersifat memandirikan
siswa dalam mengeksplorasi rasa keingintahuannya dan memecahkan masalah yang
diberikan guru.
Seorang guru yang mendidik pada saat
ini, siap atau tidak pasti akan berhadapan dengan yang namanya teknologi.
Perkembangannya pun sangat pesat, bulan ini HP merek A yang canggih, bulan
depan ada lagi merek B yang lebih canggih. Oleh karena itu, setiap pendidik
harus mengikuti perkembangan zaman dalam pembelajaran. Adapun perbedaan antara
pembeajaran abad 20 dan abad 21 seperti tercantum pada tabel di bawah ini :
Jenis
|
Pembelajaran Abad 20
|
Pembelajaran Abad 21
|
Lingkungan
|
Berpusat pada guru
|
Berpusat pada siswa
|
Aktivitas
kelas
|
Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis
|
Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif
|
Peran guru
|
Menyampaikan fakta-fakta, guru sebagai ahli
|
Kolaboratif, kadang-kadang siswa sebagai akhli
|
Penekanan
pengajaran
|
Mengingat fakta-fakta
|
Hubungan antara informasi dan temuan
|
Konsep
pengetahuan
|
Akumulasi fakta secara kuantitas
|
Transformasi fakta-fakta
|
Penampilan
keberhasilan
|
Penilaian acuan norma
|
Kuantitas pemahaman, penilaian acuan patokan
|
Penilaian
|
Soal-soal pilihan berganda
|
Protofolio, pemecahan masalah, dan penampilan
|
Penggunaan
teknologi
|
Latihan dan praktek
|
Komunikasi, akses, kolaborasi, ekspresi
|
Konsekuensi
dari bergulirnya paradigma ini memerlukan sumber belajar yang banyak. Tetapi
sekolah dihadapkan pada kenyataan bahwa sumber belajar yang ada di perpustakaan
sangat terbatas. Koleksi buku dan compact
disk (CD) yang dimiliki sekolah pun acapkali sudah usang. Pembaharuan
koleksi buku dan CD tentu memerlukan biaya yang sangat besar. ICT dapat
dijadikan solusi bagi permasalahan ini.
Pada abad 20,
perpustakaan adalah ruang pembelajaran utama, tetapi pada abad 21 ini sebuah
revolusi pengetahuan terjadi. Dunia sudah semakin go digital. Semakin
banyak buku yang telah dirubah ke dalam format digital book dan
dapat dengan mudah diakses melalui situs seperti ibiblio, Google
Scholar dan Questia. Perpustakaan instan pun ada di komputer. Bahkan ada salah satu
proyek besar untuk pendigitalan buku ini disebut dengan nama Project
Gutenberg yang memiliki misi utama mendigitalkan buku-buku yang
sudah berstatus public domain. Hal ini pula yang ditiru oleh pemerintah Indonesia lewat
Departemen Pendidikan dengan electronik book (e-book) untuk buku
pedoman bagi siswa.
Pencarian
informasi apa pun dapat dengan mudah dan cepat dicari dengan mesin pencari.
Situs-situs mesin pencari seperti Google dan Yahoo! Sudah tersedia, bahkan
sudah mulai meluncurkan versi mobile yang dapat diakses melalui telepon
genggam. Dan telepon gengam bukan barang aneh bagi kebanyakan siswa di
Indonesia. Bahkan untuk kasus SMAN 8 Bogor, 100% siswa harus memiliki telepon
gengam, berkaitan dengan segala informasi kesiswaan dan kurikulum akan
diberitahukan lewat telepon gengam.
ICT
menyajikan teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan
percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat
pengguna (user) lebih leluasa
memilih, mensintesa, dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya.
Walhasil komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran,
karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi,
seperti yang diinginkan. Berbeda dengan guru, guru tak mungkin menjelaskan hal
yang sama terus menerus pada siswa yang lambat. Selain itu siswa yang cepat pun
dapat terus berlari tanpa perlu dihalangi dan distandarisasi sama dengan siswa
lainnya. Inilah iklim afektif dari pemanfaatan ICT dalam pembelajaran.
Tantangan dalam PBM seperti ini mengharuskan kita sadar untuk mengelola kelas
yang berbasis ICT.
Pengelolaan
kelas menitik tekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan, berbeda dengan pembelajaran (instruction) yang lebih menekankan
aspek mengelola atau memproses materi pelajaran. Menurut Raka Joni, pengelolaan
kelas adalah mengkondisikan kelas yang optimal bagi terjadinya proses belajar,
yang meliputi pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik
yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas
oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif.
Pengaturan kelas mencakup pengaturan peserta didik dan fasilitas. ICT sendiri
termasuk dalam pengaturan fasilitas untuk menunjang iklim konduksif bagi PBM di
kelas. Baik iklim kognitif, afektif, dan psikomotor.
Iklim
kognitif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah pemahaman terhadap materi
karena siswa diberikan kesempatan bereksplorasi dengan ICT untuk memecahkan
masalah baik secara sintesis maupun analisis. Iklim afektif yang dicapai dari
kelas berbasis ICT adalah akomodasi siswa lambat dan cepat secara adil. Siswa
yang lambat tidak akan menjadi bahan olok-olokan temannya, karena
keterlambatannya, karena ICT memiliki kesabaran dalam menerima
pengulangan-pengulangan sesuai kehendak pengguna (user). Begitu pun
siswa cepat, tidak akan merasa kurang, karena ICT mampu melayani semua rasa
ingin tahunya dengan kecepatan sesuai permintaan pengguna (user).
Adapun iklim psikomotor (skill) adalah yang paling dominan tercapai.
Penggunaan ICT menciptakan skill
menulis, berkomunikasi, dan mengakses pengetahuan dengan cepat, mudah, dan
tepat.
Ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam pengelolaan kelas berbasis
ICT, diantaranya adalah:
1. Penggunaan
ICT sebaiknya dibagi dalam tiga katagori, yaitu one laptop for all
students, one student one laptop, dan one laptop for four students.
2. Pengunaan
ICT bersifat “one laptop for all student” digunakan pada saat guru
memberikan konsep dasar yang harus dikuasai siswa secara menyeluruh. Adapun one
student one laptop dan one laptop for four students digunakan
untuk tahap pengembangan konsep, yang memerlukan aktifitas eksplorasi atau
pemecahan masalah.
3. Penggunaan
fasilitas hendaknya tidak terlalu sering bersifat individual, yaitu “one
student one laptop“, tetapi sesekali harus diberikan fasilitas bersifat
kerjasama, “one laptop for four student“. Ini semua sesuai dengan
hakekat belajar aktif, menurut Vygotsky [1896-1934]
(1962), salah satu pengagas konstruktivisme sosial, yang terkenal
dengan teori “Zone of Proximal Development” (ZPD). “Proximal”
dalam bahasa sederhana bermakna “next“. Vygotsky mengamati, ketika
anak diberi tugas untuk dirinya sediri, mereka akan bekerja sebaik-baiknya
ketika mereka bekerjasama. Selanjutnya Vygotsky menyatakan, setiap manusia
mempunyai potensi, dan potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan ketuntasan
belajar, tetapi di antara potensi dan aktualisasi terdapat wilayah abu-abu.
“Guru berkewajiban menjadikan wilayah abu-abu ini dapat teraktualisasi, caranya
dengan belajar kelompok. Dalam bahasa yang lebih umum, terdapat tiga wilayah “cannot yet do”, “can do with help“, and “can do alone“. ZPD adalah wilayah
“can do with help”,
wilayah ini bukan wilayah yang permanen, kuncinya adalah menarik pembelajar
menjadi dari zona tersebut, dengan cara bekerjasama.
4. Guru
harus menetapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam penggunaan ICT
dikelas. SOP ini mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5. Guru
merancang kelas yang berbasis ICT yang bersifat dinamis sesuai dengan kebutuhan
pembelajaran. Harus dibedakan tempat duduk siswa ketika kebutuhannya one
laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for
four students.
DAFTAR PUSTAKA
Rbaryans.
2008. Tantangan di Abad 21 : Pengelolaan
Kelas Berbasis ICT.
[Online]. Tersedia: http://rbaryans.wordpress.com/2008/09/17/tantangan-
di-abad-21-pengelolaan-kelas-berbasis-ict/ [15 September
2012]
Basri
Lahamuddin. 2011. Guru Abad 21.
[Online]. Tersedia:
http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/04/guru-abad-21/
[15 September
2012]
Wowo
Naryo. 2009. Sosok Guru Abad 21 ; Sebuah
Harapan dan Kenyataan.
[Online].
Tersedia: http://miftah19.wordpress.com/2009/05/16/sosok-guru-abad-21-sebuah-harapan-dan-kenyataan/ [15 September 2012]

1 komentar:
How to Win at Baccarat | Wilbur City
As for the dealer, 제왕 카지노 if you play the table, the dealers 바카라 will But in fact, all the 메리트카지노 cards in the table have to be dealt before the dealer
Posting Komentar