Pages

Rabu, 21 November 2012

Pembelajaran Abad 21


Pembelajaran Abad 21 (21st Century Learning) dan Peran Guru di Abad 21

            Abad 21 merupakan abad informasi dan komunikasi, yang ditandai dengan perkembangan pesat pada teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi dan komunikasi berupa televisi, telepon, komputer, dan internet mengalami perkembangan yang luar biasa.
            Sebelum abad 21 fasilitas komunikasi antar negara dan antar wilayah masih sangat terbatas. Banyak keterbatasan yang dihadapi, hal ini membuat berita dan kejadian dari suatu wilayah sulit diketahui oleh wilayah lain. Kejadian di Amerika tidak akan mudah diketahui oleh mereka yang tinggal di belahan bumi lainnya seperti Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Namun, lewat perkembangan teknologi komputer, internet, dan telepon, dunia pun seakan-akan berada dalam genggaman kita.
Informasi yang ada dibelahan bumi lain, secepat kilat akan sampai dibelahan bumi lainnya lewat short message system (SMS) atau berita di internet. Tidak ada lagi informasi yang dapat disembunyikan dengan perkembangan pemantauan satelit yang bisa diakses lewat google earth dan google map.
Berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjelang abad 21, jarak tampaknya tidak lagi menjadi masalah. Menit ini peristiwanya terjadi, menit berikutnya seluruh dunia bisa mengetahuinya. Adanya satelit membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Kemudahan komunikasi inilah yang membawa penghuni dunia ke dalam kehidupan bersama, yang memungkinkan mereka saling berinteraksi, mempengaruhi dan dipengaruhi, juga dalam memilih dan menentukan pandangan serta gaya hidup.
Sekolah sebagai institusi pencetak generasi yang hidup dimasa mendatang harus mempunyai keperdulian terhadap perkembangan yang terjadi. Jika tidak, maka anak-anak yang kita didik akan tertinggal dengan perkembangan zaman. Karena perkembangan informasi dan komunikasi ini tidak mempunyai toleransi, pilihannya hanya dua, yaitu mampu beradaptasi dan mengadopsi atau tertinggal ke belakang.
Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi, dan keterlibatan orang tua/masyarakat. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan keunggulan dalam nasionalisme dan jiwa juang, keimanan dan ketakwaan, penguasaan iptek, etos kerja dan disiplin, profesionalisme, kerjasama dan belajar dengan berbagai disiplin, wawasan masa depan, kepastian karir, dan kesejahteraan lahir batin.
Pendidikan mempunyai peranan yang amat strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki keberdayaan dan kecerdasan emosional yang tinggi dan menguasai keterampilan yang mantap. Untuk itu, lembaga pendidikan dalam berbagai jenis dan jenjang memerlukan pencerahan dan pemberdayaan dalam berbagai aspeknya.
            Guru abad 21 harus menguasai banyak pengetahuan (akademik, pedagogik, sosial dan budaya), mampu berpikir kritis, tanggap terhadap setiap perubahan, dan mampu menyelesaikan masalah. Guru tidak boleh hanya datang ke sekolah melulu untuk mengajar saja. Kemampuan untuk mengelola kelas saja tidak cukup lagi. Guru diharapkan bisa menjadi pemimpin dan agen perubahan, yang mampu mempersiapkan anak didik untuk siap menghadapi tantangan global di luar sekolah. Selain orang tua peran guru dalam mengarahkan masa depan anak didiknya sangat signifikan. Bisa dibayangkan apa jadinya kalau guru tidak siap menghadapi semua tantangan dinamika pendidikan abad 21 ini, yang notabene masih terus akan berubah.
            Guru pada abad ini dan abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, atau yang lebih dikenal dengan ICT (information comunication technology). Bagaimana mengelola kelas berbasis ICT yang akan menunjang daya adaptasi dan adopsi siswa terhadap kemajuan teknologi informasi dan komunikasi?
Diakui atau tidak diakui dalam dunia pendidikan paradigma yang dianut sekarang adalah konstruktivisme. Jika dahulu pengetahuan siswa bersumber dari guru, dan siswa dianggap sebagai gelas kosong yang siap diisi. Maka dengan paradigma konstruktivisme, siswa harus dianggap memiliki pengetahuan awal, dan tugas guru hanya mengkonstruksinya. Siswa pun diibaratkan tanaman yang sudah punya potensi untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan guru hanya berfungsi sebagai penyiram yang membantu tanaman (siswa) tumbuh dan berkembang dengan baik. Akibatnya, peran guru berubah dari pengajar menjadi fasilitator dengan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center), tidak lagi berpusat pada guru (teacher center). Proses belajar mengajar bersifat memandirikan siswa dalam mengeksplorasi rasa keingintahuannya dan memecahkan masalah yang diberikan guru.
Seorang guru yang mendidik pada saat ini, siap atau tidak pasti akan berhadapan dengan yang namanya teknologi. Perkembangannya pun sangat pesat, bulan ini HP merek A yang canggih, bulan depan ada lagi  merek B yang lebih canggih. Oleh karena itu, setiap pendidik harus mengikuti perkembangan zaman dalam pembelajaran. Adapun perbedaan antara pembeajaran abad 20 dan abad 21 seperti tercantum pada tabel di bawah ini :
Jenis
Pembelajaran Abad 20
Pembelajaran Abad 21
Lingkungan
Berpusat pada guru
Berpusat pada siswa
Aktivitas kelas
Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis
Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif
Peran guru
Menyampaikan fakta-fakta, guru sebagai ahli
Kolaboratif, kadang-kadang siswa sebagai akhli
Penekanan pengajaran
Mengingat fakta-fakta
Hubungan antara informasi dan temuan
Konsep pengetahuan
Akumulasi fakta secara kuantitas
Transformasi fakta-fakta
Penampilan keberhasilan
Penilaian acuan norma
Kuantitas pemahaman, penilaian acuan patokan
Penilaian
Soal-soal pilihan berganda
Protofolio, pemecahan masalah, dan penampilan
Penggunaan teknologi
Latihan dan praktek
Komunikasi, akses, kolaborasi, ekspresi
Konsekuensi dari bergulirnya paradigma ini memerlukan sumber belajar yang banyak. Tetapi sekolah dihadapkan pada kenyataan bahwa sumber belajar yang ada di perpustakaan sangat terbatas. Koleksi buku dan compact disk (CD) yang dimiliki sekolah pun acapkali sudah usang. Pembaharuan koleksi buku dan CD tentu memerlukan biaya yang sangat besar. ICT dapat dijadikan solusi bagi permasalahan ini.
Pada abad 20, perpustakaan adalah ruang pembelajaran utama, tetapi pada abad 21 ini sebuah revolusi pengetahuan terjadi. Dunia sudah semakin go digital. Semakin banyak buku yang telah dirubah ke dalam format digital book dan dapat dengan mudah diakses melalui situs seperti ibiblio, Google Scholar dan Questia. Perpustakaan instan pun ada di komputer. Bahkan ada salah satu proyek besar untuk pendigitalan buku ini disebut dengan nama Project Gutenberg yang memiliki misi utama mendigitalkan buku-buku yang sudah berstatus public domain. Hal ini pula yang ditiru oleh pemerintah Indonesia lewat Departemen Pendidikan dengan electronik book (e-book) untuk buku pedoman bagi siswa.
Pencarian informasi apa pun dapat dengan mudah dan cepat dicari dengan mesin pencari. Situs-situs mesin pencari seperti Google dan Yahoo! Sudah tersedia, bahkan sudah mulai meluncurkan versi mobile yang dapat diakses melalui telepon genggam. Dan telepon gengam bukan barang aneh bagi kebanyakan siswa di Indonesia. Bahkan untuk kasus SMAN 8 Bogor, 100% siswa harus memiliki telepon gengam, berkaitan dengan segala informasi kesiswaan dan kurikulum akan diberitahukan lewat telepon gengam.
ICT menyajikan teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa, dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya. Walhasil komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi, seperti yang diinginkan. Berbeda dengan guru, guru tak mungkin menjelaskan hal yang sama terus menerus pada siswa yang lambat. Selain itu siswa yang cepat pun dapat terus berlari tanpa perlu dihalangi dan distandarisasi sama dengan siswa lainnya. Inilah iklim afektif dari pemanfaatan ICT dalam pembelajaran. Tantangan dalam PBM seperti ini mengharuskan kita sadar untuk mengelola kelas yang berbasis ICT.
Pengelolaan kelas menitik tekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan, berbeda dengan pembelajaran (instruction) yang lebih menekankan aspek mengelola atau memproses materi pelajaran. Menurut Raka Joni, pengelolaan kelas adalah mengkondisikan kelas yang optimal bagi terjadinya proses belajar, yang meliputi pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif. Pengaturan kelas mencakup pengaturan peserta didik dan fasilitas. ICT sendiri termasuk dalam pengaturan fasilitas untuk menunjang iklim konduksif bagi PBM di kelas. Baik iklim kognitif, afektif, dan psikomotor.
Iklim kognitif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah pemahaman terhadap materi karena siswa diberikan kesempatan bereksplorasi dengan ICT untuk memecahkan masalah baik secara sintesis maupun analisis. Iklim afektif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah akomodasi siswa lambat dan cepat secara adil. Siswa yang lambat tidak akan menjadi bahan olok-olokan temannya, karena keterlambatannya, karena ICT memiliki kesabaran dalam menerima pengulangan-pengulangan sesuai kehendak pengguna (user). Begitu pun siswa cepat, tidak akan merasa kurang, karena ICT mampu melayani semua rasa ingin tahunya dengan kecepatan sesuai permintaan pengguna (user). Adapun iklim psikomotor (skill) adalah yang paling dominan tercapai. Penggunaan ICT menciptakan skill menulis, berkomunikasi, dan mengakses pengetahuan dengan cepat, mudah, dan tepat.
            Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam pengelolaan kelas berbasis ICT, diantaranya adalah:
1.      Penggunaan ICT sebaiknya dibagi dalam tiga katagori, yaitu one laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four students.
2.      Pengunaan ICT bersifat “one laptop for all student” digunakan pada saat guru memberikan konsep dasar yang harus dikuasai siswa secara menyeluruh. Adapun one student one laptop dan one laptop for four students digunakan untuk tahap pengembangan konsep, yang memerlukan aktifitas eksplorasi atau pemecahan masalah.
3.      Penggunaan fasilitas hendaknya tidak terlalu sering bersifat individual, yaitu “one student one laptop“, tetapi sesekali harus diberikan fasilitas bersifat kerjasama, “one laptop for four student“. Ini semua sesuai dengan hakekat belajar aktif, menurut Vygotsky [1896-1934] (1962), salah satu pengagas konstruktivisme sosial, yang terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” (ZPD). “Proximal” dalam bahasa sederhana bermakna “next“. Vygotsky mengamati, ketika anak diberi tugas untuk dirinya sediri, mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika mereka bekerjasama. Selanjutnya Vygotsky menyatakan, setiap manusia mempunyai potensi, dan potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan ketuntasan belajar, tetapi di antara potensi dan aktualisasi terdapat wilayah abu-abu. “Guru berkewajiban menjadikan wilayah abu-abu ini dapat teraktualisasi, caranya dengan belajar kelompok. Dalam bahasa yang lebih umum, terdapat tiga wilayah “cannot yet do”,can do with help“, and “can do alone“. ZPD adalah wilayah “can do with help”, wilayah ini bukan wilayah yang permanen, kuncinya adalah menarik pembelajar menjadi dari zona tersebut, dengan cara bekerjasama.
4.      Guru harus menetapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam penggunaan ICT dikelas. SOP ini mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5.      Guru merancang kelas yang berbasis ICT yang bersifat dinamis sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Harus dibedakan tempat duduk siswa ketika kebutuhannya one laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four students.

DAFTAR PUSTAKA

Rbaryans. 2008. Tantangan di Abad 21 : Pengelolaan Kelas Berbasis ICT.

Basri Lahamuddin. 2011. Guru Abad 21. [Online]. Tersedia:
2012]

Wowo Naryo. 2009. Sosok Guru Abad 21 ; Sebuah Harapan dan Kenyataan.


1 komentar:

Anonim mengatakan...

How to Win at Baccarat | Wilbur City
As for the dealer, 제왕 카지노 if you play the table, the dealers 바카라 will But in fact, all the 메리트카지노 cards in the table have to be dealt before the dealer

Posting Komentar