Pages

Jumat, 07 Desember 2012

Pedagogik

Pengertian, Kerancuan, Keniscayaan, Keharusan dan Kegunaan Pedagogik

A.    Pengertian Pedagogik
Istilah Pedagogik (Bahasa Belanda: paedagogiek, Bahasa Inggris: pedagogy) berasal dari dua kata dalam Bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos yang berarti anak dan agogos yang berarti mengantar, membimbing atau memimpin. Dari dua kata tersebut terbentuk beberapa istilah yang masing-masing memiliki arti tertentu. Istilah-istilah yang dimaksud yakni paedagogos, pedagog (paedagoog atau pedagogue), paedagogia, pedagogi (paedagogie) dan pedagogik (paedagogiek).
Dari kata paedos dan agogos terbentuk istilah paedagogos yang berarti seorang pelayan atau pembantu pada zaman Yunani Kuno, yang bertugas mengantar dan menjemput anak-anak majikannya ke sekolah, selain itu, di rumah paedagogos juga bertugas untuk selalu membimbing atau memimpin anak-anak majikannya. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa pendidikan anak pada zaman Yunani Kuno sebagian besar diserahkan kepada paedagogos. Lalu, terjadi perubahan istilah yaitu dari paedagogos (pada zaman Yunani Kuno) menjadi pedagog (paedagoog atau pedagogue) yang berlaku hingga dewasa ini. Perubahan istilah ini mengimplikasikan perubahan arti. Istilah paedagogos yang dulu memiliki arti sebagai pelayan atau pembantu, kini telah berubah menjadi pedagog yang berarti sebagai ahli didik atau pendidik. Namun sekalipun demikian, terdapat konsistensi prinsip yang terkandung di dalam kedua istilah tadi, yaitu bahwa paedagogos dan pedagog sama-sama bertugas untuk mengantarkan atau membimbing dan melepas anak. Paedagogos bertugas untuk mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah, setelah sampai di sekolah anak di lepas. Demikian pula dengan pedagog, ia bertugas mengantarkan atau membimbing anak untuk sampai pada kedewasaan dan setelah anak menjadi dewasa maka anak di lepas pula. Inilah yang menjadi salah satu prinsip dalam pendidikan anak, yaitu membimbingnya untuk mencapai kedewasaan.



Istilah lain yang terbentuk dari kata paedos dan agogos adalah paedagogia, artinya adalah pergaulan dengan anak-anak, selanjutnya terbentuk istilah paedagogie atau pedagogi yang berarti praktek pendidikan anak atau praktek mendidik anak dan terbentuk pula istilah paedagogiek atau pedagogik yang berarti ilmu pendidikan anak atau ilmu mendidik anak.
Beberapa istilah yang telah dijelaskan di atas (paedagogos, pedagog, paedagogia dan pedagogi) memiliki arti berkenaan dengan praktek pendidikan anak atau praktek mendidik anak, yaitu berkenaan dengan pendidik dan praktek pendidikan. Adapun istilah paedagogiek atau pedagogik berkenaan dengan seperangkat pengetahuan ilmiah tentang fenomena praktek pendidikan anak. Pendek kata, paedagogiek atau pedagogik adalah ilmu mendidik anak atau ilmu pendidikan anak.

B.     Kerancuan Pemaknaan Istilah Pedagogik
Uraian di atas secara tegas menyatakan bahwa pedagogik adalah ilmu pendidikan anak atau ilmu mendidik anak. Tetapi di dalam beberapa literatur, juga ditemukan ada diantara pendidik dan ahli ilmu pendidikan yang menyatakan bahwa pedagogik adalah ilmu pendidikan atau ilmu mendidik. Bahkan ditemukan pula ada yang pada saat mengartikan pedagogik adalah sebagai ilmu pendidikan anak, tetapi pada saat yang lainnya, ia mengartikan pedagogik sebagai ilmu pendidikan atau ilmu mendidik.
Dengan alasan tertentu, kedua pengertian di atas (pedagogik adalah ilmu pendidikan anak dan pedagogik adalah ilmu pendidikan) dapat diakui benar. Sebaliknya, dengan alasan tertentu pula bahwa pandangan pedagogik adalah ilmu pendidikan atau ilmu mendidik dapat pula dikatakan salah atau keliru. Adapun alasan-alasan tersbut bersumber dari pengertian pendidikan yang berbeda-beda yang berimplikasi terhadap pemaknaan istilah pedagogik.
1.      Pengertian Pendidikan secara Luas dan Implikasinya terhadap Makna Istilah Pedagogik
Dalam arti luas, pendidikan adalah hidup. Artinya, pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu. Contoh, seorang anak tertarik dengan nyala api yang membara, ia memegangnya dan merasakan panas. Berdasarkan pengalaman itu, akhirnya ia selalu hati-hati apabila menghadapi atau menggunakan api. Dengan maksud meningkatkan kualitas diri, mahasiswa menuntut ilmu di suatu perguruan tinggi. Ketika terjadi suatu bencana alam, seseorang menyadarai dosa-dosa yang telah diperbuatnya, segera bertaubat kepada Tuhannya dan berusaha tidak berbuat dosa lagi.
Dari tiga contoh di atas, kita dapat memahami bahwa dalam arti luas pendidikan berlangsung dalam konteks hubungan manusia yang berlangsung multi dimensi, baik dalam hubungan manusia dengan manusai dan budayanya, dengan alam, bahkan dengan Tuhannya. Dalam hubungan yang bersifat multi dimensi itu pendidikan berlangsung melalui berbagai bentuk kegiatan, berbagai bentuk tindakan dan berbagai peristiwa, baik yang pada awalnya tidak disengaja atau disengaja untuk pendidikan. Sehubungan dengan ini Rupert S. Lodge menyatakan “In the wider sense, all experience is said to be educative. Everything we say, think or do, educates us, no less than what is said or done to us by other beings, animate or inanimate. In the wider sense, life is education and education is life” (Mohammad Noor Syam, 1984).
Dalam arti luas, pendidikan berlangsung bagi siapa pun, kapan pun dan dimana pun. Pendidikan tidak terbatas di dalam keluarga saja, tidak pula terbatas pada sekolah saja, bahkan pendidikan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan berlangsung di berbagai tempat atau lingkungan, baik di dalam keluarga, di sekolah maupun di dalam masyarakat. Sebab itu, Mortimer J. Adler (1982) menyatakan bahwa “Education is life long process of which schooling is only a small but necessary part”.
Disadari maupun tidak disadari, pendidikan selalu diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti luas, tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar dan tidak ditentukan oleh pihak luar individu. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, jumlah tujuan pendidikan tidak terbatas. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup (Redja Mudyahrdjo, 2001).
Di atas telah dikemukakan bahwa dalam arti luas pendidikan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan berlangsung semenjak seseorang lahir (bahkan ada pula yang menafsirkan sejak dalam kandungan ibu) sampai meninggal dunia. Apabila kita analisis, dapat dipahami bahwa pendidikan dapat berlangsung pada tahapan anak usia dini, tahapan anak, tahapan orang dewasa dan pada tahapan usia lanjut. Mengacu kepada asumsi ini, maka terdapat beberapa cabang ilmu pendidikan yang dikembangkan oleh para ahli, antara lain adalah Pedagogik (Inggris: Pedagogy), Andragogi dan Gerogogi (Djudju sudjana, 2006:6).
Dalam konteks uraian di atas, Pedagogik adalah ilmu pendidikan anak, Andragogi adalah ilmu pendidikan orang dewasa sedangkan, Gerogogi adalah ilmu pendidikan manula atau manusia usia lanjut. Sehubungan dengan ini, dalam konteks pengertian pendidikan secara luas adalah keliru apabila kita menyatakan bahwa pedagogik adalah ilmu pendidikan. Sebab, di dalam kalimat pedagogik adalah ilmu pendidikan terkandung arti bahwa Andragogi dan Gerogogi pun tergolong ke dalam pedagogik. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, sesungguhnya arti pedagogik tidaklah demikian. Pedagogik bukan ilmu pendidikan dalam arti keseluruhan ilmu pendidikan, melainkan hanya salah satu bagian (cabang) saja dari keseluruhan ilmu pendidikan. Jadi apabila kita mengacu kepada pengertian pendidikan dalam arti luas, yang benar dalam konteks ini, bahwa Pedagogik adalah ilmu pendidikan anak.

2.      Pengertian Pendidikan dalam Tinjauan Pedagogik dan Implikasinya terhadap Istilah Pedagogik
M.J Langeveld dalam bukunya “Beknopte Theoritische Paedagogiek” (Simajuntak, 1980) mengemukakan “Pendidikan dalam arti yang hakiki ialah pemberian bimbingan dan bantuan rohani kepada orang yang belum dewasa”. Pada bagian lain dalam bukunya tersebut, Langeveld juga menyatakan “Mendidik berarti melakukan tindakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan”. Adapun menurutnya tujuan pendidikan itu adalah kedewasaan. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan secara sengaja oleh orang dewasa untuk membantu atau membimbing anak (orang yang belum dewasa) agar mencapai kedewasaan.
Pendidikan berlangsung dalam pergaulan antara orang dewasa (pendidik) dengan anak atau orang yang belum dewasa (anak didik) di dalam suatu lingkungan. Karena pendidikan merupakan upaya yang di sengaja, maka pendidik tentunya harus sudah memiliki tjuan pendidikan. Adapun untuk mencapai tujuan tersebut, pendidik memiliki isi pendidikan (kurikulum) tertentu, menggunakan cara-cara atau metode tertentu dan menggunakan alat pendidikan tertentu pula. Dengan demikian ada berbagai unsur yang terlibat dalam praktek pendidikan (pergaulan pendidikan), yaitu:
a)      Tujuan pendidikan
b)      Pendidik
c)      Ank didik
d)     Isi pendidikan (kurikulum)
e)      Alat dan metode/cara-cara pendidikan
f)       Lingkungan pendidikan
Menurut M.J Langeveld, pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan. Adapun syarat anak mengenal kewibawaan adalah kemampuan anak dalam memahami bahasa. Dengan demikian, batas bawah pendidikan atau saat pendidikan dapat mulai berlangsung yakni ketika anak mengenal kewibawaan. Sedangkan batas atas pendidikan atau saat akhir pendidikan adalah ketika tujuan pendidikan telah tercapai, yaitu kedewasaan. Bila anak belum mengenal kewibawaan, pendidikan belum dapat dilaksanakan. Dalam keadaan anak seperti ini, yang dapat dilaksanakan adalah pra pendidikan atau pembiasaan. Sedangkan, apabila anak telah mencapai kedewasaan yang mungkin terjadi adalah bildung atau pembinaan diri sendiri. Dalam kegiatan pra pendidikan (pembiasaan) atau dalam praktek pendidikan yang dilakukan oleh pendidik dengan anak yang belum dewasa, tanggung jawab pendidikan terletak pada diri pendidik. Sedangkan dalam bildung, tanggung jawab terletak pada orang dewasa yang melaksanakan bildung tersebut.
Dalam uraian di atas telah dijelaskan bahwa pendidikan baru dapat terlaksana ketika anak sudah mengenal kewibawaan, adapun akhir pendidikan adalah ketika anak mencapai kedewasaan. Dengan demikian, menurut tijauan pedagogik tidak ada pendidikan untuk orang dewasa, demikian pula untuk manusia usia lanjut, pendidikan hanyalah bagi anak. Jadi, apabila kita mengacu kepada pengertian pendidikan menurut tinjauan pedagogik, maka pernyataan “pedagogik adalah ilmu pendidikan anak” sama maknanya dengan “pedagogik adalah ilmu pendidikan”. Tetapi, apabila kita mengacu kepada pengertian pendidikan secara luas, tidak benar apabila kita memaknai pedagogik adalah pendidikan.

0 komentar:

Posting Komentar